Blogroll


Komentar Terbaru


Arsip


Pengunjung

    5.761

Psikologi Humanistik: Psikologi Keterikatan

Ditulis pada 13 March 2013 Oleh desty-r-p-fpsi11 | Kategori : Psikologi

  • Apa itu Flow?

Status dari optimal experience.

  • Karakteristik Flow

Menurut Csíkszentmihályi, karakteristik flow adalah:

  1. Aktivitas tersebut memiliki tujuan yang jelas, menantang namun masih dapat dicapai
  2. Merasakan konsentrasi yang kuat dan perhatian yang terfokus pada apa saja yang sedang dilakukan
  3. Aktivitas yang secara intrinsik berharga
  4. Merasakan ketenangan, perasaan kehilangan kesadaran diri
  5. Tidak ada batas waktu, merasakan waktu yang terdistorsi, merasakan begitu terfokusnya pada masa sekarang sehingga tanpa sadar kehilangan jejak berlalunya waktu
  6. Umpan balik yang langsung
  7. Mengetahui bahwa tugas bisa dilakukan, keseimbangan antara tingkat ketrampilan dan tantangan yang diberikan
  8. Perasaan kontrol pribadi atas situasi dan hasilnya
  9. Kurangnya kesadaran akan kebutuhan fisik
  10. Selesaikan fokus pada kegiatan itu sendiri.
  • Keadaan Flow

Csíkszentmihályi menjelaskan bahwa flow mungkin terjadi ketika individu dihadapkan dengan tugas yang memiliki kejelasan tujuan yang membutuhkan respon spesifik. Flow juga bisa terjadi ketika keterampilan seseorang terlibat secara penuh dalam mengatasi tantangan yang bisa dikelola, sehingga bertindak sebagai magnet untuk mempelajari keterampilan baru dan meningkatkan tantangan. Jika tantangan terlalu rendah, seseorang akan kembali pada flow dengan meningkatkan tantangan. Jika tantangan terlalu besar, seseorang dapat kembali pada keadaan flow dengan mempelajari keterampilan baru.

  • Teori Optimism (Dispositional Optimism dan Explanatory Style)

Dispositional optimism dikembangkan oleh Scheier dan Carver dari teori behavioral self-regulation dan menekankan harapan umum akan hasil dari masa depan.  Menurut model ini, optimis mengharapkan bahwa "yang baik, sebagai lawan yang buruk, hasil umumnya akan terjadi ketika menghadapi masalah di seluruh domain kehidupan yang penting". Contohnya dalam perkataan sehari-hari adalah "every cloud has a silver lining".

Explanatory style yang dikembangkan oleh Abrahamson dkk. dan Peterson dan Seligman, adalah mekanisme sentral, khususnya penjelasan seseorang mengenai penyebab kejadian negatif. Explanatory style memiliki tiga dimensi:

  1. Internalisasi, sejauh mana seseorang mempersepsikan diri sendiri sebagai pribadi yang bertanggungjawab pada sebuah kejadian
  2. Stabilitas, sejauh mana seseorang mempersepsikan penyebab peristiwa hadir sepanjang waktu
  3. Globalitas, sejauh mana seseorang memandang penyebab yang hadir dalam kondisi.

Sebuah explanatory style ditunjukkan dengan atribusi kejadian negatif yang bersifat eksternal (internalisasi rendah), tidak stabil (stabilitas rendah), dan spesifik (globalitas rendah). Contohnya, seseorang dengan explanatory style akan mengatribusi kegagalan hubungan dengan tindakan orang lain daripada tindakannya sendiri (eksternal),  ketidakcocokannya dengan orang-orang tertentu bukan dengan orang pada umumnya (spesifik), dan yakin bahwa hubungan tersebut akan membaik di waktu mendatang (tidak stabil). 

  • Teori Harapan

Dikemukakan oleh Viktor Vroom tahun 1964. Orang berusaha untuk melakukan tugas ketika mereka mengharapkan perannya akan membantu untuk mencapai hasil yang dibutuhkan, terkait dengan kemampuan dan keahlian mereka. Dalam teori harapan ini, ada yang disebut dengan motivational force, yaitu sejauh mana seseorang cenderung untuk terlibat dalam tindakan tertentu. Motivational Force terdiri atas tiga komponen, yaitu:

  1. Expectancy : percaya bahwa peningkatan upaya akan menghasilkan peningkatan kinerja
  2. Instrumentality : keyakinan bahwa peningkatan kinerja akan menyebabkan hasil tertentu
  3. Valence : sejauh mana hasil yang diinginkan
  • Peran Harapan dan Optimisme dalam Meningkatkan Resiliensi

Resiliensi adalah ketika seseorang tidak pernah menyesal, tidak pernah kehilangan harapan dan menerima kegagalan sebagai bagian dari kesuksesan. Mengutip dari pernyataan Prof. Suryanto dalam kuliah Dasar Metodologi Penelitian, resiliensi itu seperti bola. Semakin kuat bola tersebut dipantulkan ke lantai, maka semakin kuat pula pantulan bola tersebut ke atas. Dengan adanya harapan disertai rasa optimis, maka resiliensi dapat ditingkatkan. Orang yang optimis menganggap bahwa kegagalan itu dapat diperbaiki, kegagalan hanya terjadi di suatu area tertentu, dan bukan akibat dari dirinya sendiri. Contoh orang yang memiliki resiliensi adalah Nick Vujicic, motivator yang memiliki kekurangan, tidak memiliki lengan maupun kaki, namun tetap optimis dalam menjalani hidupnya dan memiliki harapan positif akan hidupnya.

 

-Desty Ratih Puspitasari | 111111034

 

Referensi:


Cherry, K. What Is Flow? Understanding the Psychology of Flow.
http://psychology.about.com/od/PositivePsychology/a/flow.htm

Csikszentmihalyi, M. (1990). Flow: The Psychology of Optimal Experience. New York: Harper and Row.

Tomakowsky, J., Lumley, Mark A., Markowitz, N., Frank, C. (2001). Journal of Psychosomatic Research: Optimistic Explanatory Style and Dispositional Optimism in HIV-infected Men. http://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S0022399901002495#

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :